Senin, 10 Februari 2020

Jurnal Kalibrasi Termometer dan penentuan  Titik Leleh

JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I






NAMA : SURYANI BR NABABA
NIM   : A1C118093



DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020




I.         Judul                   : Kalibrasi Termometer dan penentuan  Titik Leleh
II.      Hari/ Tanggal     : 12 Februari 2020
III.   Tujuan                : Adapun tujuan dalam percobaan ini yaitu : 
1.Dapat mengetahui prinsip-prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni

2.Dapat melakukan kalibrasi termometer sebelum digunakan untuk penentuan titik lelh suatu senyawa murni

3.Dapat membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang tidak murnian
4.Dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel

IV. LANDASAN TEORI
          Termometer merupakan alat ukur pengukur panas,dingin maupun keadaan biasa dalam bentuk padat ,cair maupun uap yang perlu diperhatikan ketepatan maupun keakuratan pengukurannya dalam penentuan hasil pengukuran . Karna pentingnya keakuratan hasil pengukuran termometer dalam dalam penggunaannya pada laboratorium, maka praktikan perlu mengidentifikasi apakah termometer masih layak digunakan dengan cara mengkalibrasi ya terlebih dahulu .
            Titik leleh merupakan perubahan fasa suatu zat dari padat menjadi uap sehingga suhu zat menjadi tingkat kemurniannya  dimana semakin kecil selisih suhunya maka semakin tinggi kemurnian zat tersebut.  (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/)
          Titik leleh suatu senyawa organik lebih mudah di amati yaitu dimana keadaan senyawa berada pada keadaan akan tepat meleleh yang biasanya titik leleh nya sangat tajam dimana berada pada suhu 127-128 °c .dimana pada saat meleleh Terjadi perubahan energi pada suatu senyawa yang diakibatkan adanya zat pengotor (Syukri,2003).

Jika suatu zat berubah wujud dari padat menjadi cair maka dapat dikatakan titik leleh. Berat molekul dan simetris molekul juga mempengaruhi titik leleh suatu senyawa,Namun pada hidrogen tidak berpengaruh karna jarak antar molekul pada hidrogen berdekatan pada saat hidrogen dalam bentuk padat (Anonymous,2009)

Pada zat padat terdapat molekul molekul yang berbentuk kisi yang teratur yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi dan elektrostatik. Molekul molekul tersebut akan terlepas jika zat di panaskan hal ini dikarenakan energi kinetik  molekul molekul tersebut akan naik yang menyebablan bergetarnya molekul yang menyebabkan ikatan molekul tersebut terputus (Tim kimia organik 1, 2019).

 Menurut  Mukarimah(2013) kalibrasi dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1.  Prosedur
Prosedursangatlah penting dikarenakan suatu hasil kalibrasi di tentukan oleh prosedur pada saat pengkalibrasian agar hasil pengkalibrasian akurat 
2. Kalibrator 
Kalibrator harus lebih baik daripada alat yang akan di kalibrasi. 
3.Tenaga pengkalibrasi K
Ketelitiandan keterampilan juga sangat berpengaruh dalam kalibrasi.
4. Periode kalibrasi
Jarak kalibrasi yang satu dengan yang lainnya memiliki waktu yang tepat.

V.   Alat dan Bahan
    5.1 Alat
                 1. Termometer
                 2. Labu erlenmeyer
                 3. Bunsen
                 4. Pipa gelas kapiler
                 5. Korek api
                 6. Stick
                 7. Benang
                 8. MPA (Melting Point Apparatus)
                 9. Kaki tiga

    5.2 Bahan
                 1. Bubuk es
                 2. Aquades
                 3. Gabus/kapas/styrefoam
                 4. Minyak
                 5. Naftalen
                 6. Glukosa
                 7. Alpha-naftol
                 8. Asam benzoat
                 9. Maltosa
                 10. Kertas grafik
                 11. Oil bath atau water bath 


VI.  Prosedur Kerja
            6.1 Kalibrasi Termometer
  1.  Dibuat campuran bubuk es dan air dalam labu Erlenmeyer 250 ml sehingga 2/5 volumenya terisi
  2. Dimasukan thermometer hingga ujungnya menyentuh campuran + air, sumbatlah mulut labu Erlenmeyer tersebut dengan gabus sehingga campuran tersebut terisolasi dari udara luar
  3. Dicatat batas bawah skala thermometer tersebut (0)
  4. Diangkat thermometer dan diulangi lagi prosedur 1-3 tersebut
  5. Dimasukan thermometer hingga tepat 1 cm di atas permukaan air, sumbat dan usahakan thermometer berada pada posisi tegas atau vertikal 
  6. Diletakan pemanasan dan dicatat suhu saat mulai mendidih dan suhu tidak naik-naik lagi (konstan)
  7. Diulangi prosedur 3-7 sekali lagi

   6.2 Penentuan Titik Leleh
  1. Diambil pipa gelas kapiler, lalu dibakar unjung sehingga tertutu
  2. Dimasukan sampel zat murni atau campuran dari ujung lainya, lalu dipadatkan  dengan bantuan stick yang berlobang tengahnya. Tinggi sampel dalam pipa kapiler tidak lebih dari 2 mm
  3. Diikat pipa kapiler dengan thermometer menggunakan benang
  4. Dimasukan alat tersebut kedalam Erlenmeyer yang telah diisi air atau minyak dengan mengisi 2/3 erlenmeyer dan sumbat dengan gabus mulut erlenmeyer
  5. Dipanaskan perangkat alat ini secara secara perlahan
  6. Dicatat suhu saat tepat zat meleleh hingga semua zat meleleh
  7. Dilakukan prosedur 1-5 sebanyak dua kali untuk tiap sampel yang diberikan. Sampel murni terdiri dari naftalen, glukosa, alpha-naftol, asam benzoate dan maltose
  8. Dilakukan cara yang sama tentukan titik leleh campuran dua senyawa dengan proporsi 1:1, 1:3, dan 3:1
  9. Digambar titik autentik yang dperoleh pada kertas millimeter block

            6.3 Demonstrasi Titik Leleh dengan MPA (Melting Point Apparatus)
  1. Ditempatkan sampel yang akan ditentukan titik lelehnya pada pipa gelas setebal lebih kurang 2 mm 
  2. Ditempatkan pipa kapiler dibagian atas
  3. Tedapat 3 lubang yang diameternya 3 mm
  4. Dimasukan sampel pada lubang 1
  5. Dimasukan pipa kapiler pada lubang 1 dan 2
  6. Dihubungkan alat dengan tombol listrik dan on kan dan diatur dengan tombol agar naik secara konstan dengan kecepatan tertentu
  7. Diamati dari lubang kecil pada alat
  8. Diperhatikan variabel suhu saat zat mulai meleleh
Video dapat dilihat pada link berikut ini : 
https://youtu.be/hyCGFFQFevo

Dari video di atas terdapat beberapa permasalahan yaitu:
1. Mengapa pada percobaan ini harus di gunakan pipa kapiler ?
2. Pada percobaan tersebut mengapa pipa kapiler di bakar terlebih dahulu ujungnya?apakah tidak menimbulkan efek pada percoban ?
3. Pada percobaan ini Prinsip kerja apa yang terjadi di dalam pipa kapiler?




Selasa, 04 Februari 2020

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 ANALISA UNSUR UNSUR ZAT ORGANIK DAN PENENTUAN KELAS KELARUTAN


LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I








NAMA : SURYANI BR NABABA
NIM   : A1C118093



DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020


VII. DATA PENGAMATAN
7.1 Analisa Unsur
a. Karbon dan Halogen
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Serbuk CuO kering dikeringkan diatas pemanas busen
Tidak terjadi perubahan pada serbuk CuO
 CuO panas di tambahkan gula dan di panaskan 
Gula meleleh dan tercampur dengan serbuk CuO.
Dipindahkan kedalam tabung reaksi pyrex. Disusun dengan penyumbat dan pipa pengalir gas (pipa U)  dialirkan kedalam tabung larutan Ca(OH)2 . lalu dipanaskan.
Terdapat gelembung-gelembung dan juga mengeluarkan asap pada pipa

b. Halogen
Tes Bellstein
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dipanaskan kawat tembaga
Timbul warna kemrah-merahan.
Dibiarkan dingin, ditetesi kawat tembaga dengan n-hexsana dan dipanaskan kembali
Terjadi perubahan warna menjadi orange.

Tes CaO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dipanaskan cangkang telur (pengganti CaO) dalam tabung reaksi dan dipanaskan.
Tidak ada terjadi perubahan warna 
Ditetesi n-hexsana 2 tetes saat masih panas
Cangkang telur berubah warna menjadi kecoklatan(gosong) dan mengeluarkan bau 
Setelah dingin, ditambahkan dengan air suling lalu di didihkan . Dituang ke dalam gelas kimia dan larutanHNO3encer.
Larutan menjadi jernih dan terdapat banyak gelembung disekitaran cangkang telur yang naik ke permukaan tabung rx

c. Metode Leburan dengan Natrium
Belerang
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Diasamkan putih telur dengan HCl dan  didihkan . Diperiksa gas yang dihasilkan kertas saring yang sudah dibasahi dengan Pb-asetat terlebih dahulu. Ditambahkan 2 tetes larutan Na-nitroprosida.
Menimbulkan gas dan bau yang tak sedap. Terdapat gumpalan putih pada larutan 
  
Halogen
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Diasamkan larutan L (putih telur) 3 ml dengan HNO3 encer.
Larutan berwarna putih keruh.
Larutan dididihkan dan ditambahkan larutan AgNO3 5 ml dan dididihkan kembali.
Terjadi perubahan warna menjadi kuning,terdapat bau yang tak sedap. Dan terdapat endapan hitam kecoklatan.

7.2 Penentuan Kelas Kelarutan
a. Kelarutan dalam air
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 0,1 gr garam ditambahkan 3 ml air suling dan dikocok hingga larut
Larut.larutan jernih(+)
Dimasukkan 0,1 gr gula ditambahkan 3 ml air suling dan dikocok hingga larut
Larut. Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr tepung ditambahkan 3 ml air suling dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes minyak ditambahkan 3ml air suling dan dikocok hingga larut
Tak larut. larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes putih telur ditambahkan 3 ml air suling dan dikocok hingga larut
Tak larut. larutan keruh(-)

b. Kelarutan dalam eter
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 0,1 gr garam ditambahkan 3 ml eter dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr gula ditambahkan 3  ml eter dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr tepung ditambahkan  3 ml eter dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes minyak ditambahkan 3ml eter dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan  jernih(+)
Dimasukkan 3 tetes putih telur ditambahkan 3 ml eter dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)

c. Kelarutan dalam NaOH
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 0,1 gr garam  ditambahkan 3 ml NaOH dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 0,1 gr gula ditambahkan 3 ml NaOH dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr tepung ditambahkan 3 ml NaOH dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes minyak ditambahkan 3 ml NaOH dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes putih telur ditambahkan 3 ml NaOH dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)

d. Kelarutan dalam NaHCO3
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 0,1 gr garam ditambahkan 3 ml NaHCO3  dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 0,1 gr gula ditambahkan 3 ml NaHCO3 dan dikocok hingga larut
larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr tepung ditambahkan 3 ml NaHCO3  dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes minyak ditambahkan 3 ml NaHCO3  dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes putih telur ditambahkan3 ml NaHCO3  dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)

e. Kelarutan dalam HCl
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 0,1 gr garam ditambahkan 3 ml HCl dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr gula ditambahkan 3 ml HCl dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr tepung ditambahkan 3 ml HCl dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 3 tetes minyak ditambahkan 3 ml HCl dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 3 tetes putih telur ditambahkan 3 ml HCl dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)

f. Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 0,1 gr garam ditambahkan 3; ml H2SO4dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 0,1 gr gula ditambahkan 3 ml H2SO4dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr tepung ditambahkan 3 ml H2SO4dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes minyak ditambahkan3 ml H2SO4dan dikocok hingga larut
Tak larut.larutan keruh(-)
Dimasukkan 3 tetes putih telur ditambahkan 3 ml H2SO4 dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)

g. Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan 0,1 gr garam ditambahkan 3 ml H3PO4dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr gula ditambahkan 3 ml H3PO4dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 0,1 gr tepung ditambahkan 3 ml H3PO4dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 3 tetes minyak ditambahkan 3 ml H3PO4dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)
Dimasukkan 3 tetes putih telur ditambahkan 3  ml H3PO4 dan dikocok hingga larut
Larut.Larutan jernih (+)


VIII . PEMBAHASAN 
8.1 Analisa unsur
8.1.1. karbon dan hidrogen 
Pada saat serbuk CuO dikeringkan dan panaskan pada cawan porselin diatas Bunsen Tidak terjadi perubahan warna maupun wujud.
Pada saat serbuk CuO di tambahkan gula dan di panaskan kembali terjadi perubahan wujud yaitu gula meleleh. 
Kemudian CuO dan gula di masukan kedalam tabung reaksi dan di rangkai dengan pipa pengalir gas dan sumbat dan tabung reaksi di panaskan terjadinya pengembunan pada tabung reaksi dan mengalir melalui pipa pengalir gas ke gelas kimia berisi Ca(OH)2 yang menghasilkan gelembung hal ini di sebabkan adanya kandungan karbon dan hidrogen. 

8.1.2. Halogen
-tes Beilsteisen
Pada percobaan ini kami memanaskan kawat tembaga hingga membara (berwarna merah) kemudian kawat didinginkan dan di tetesi larutan n-heksana dan kembali di pijarkan yang menghasilkan warna oranye yang disebabkan terbentuknya uap cu-halida.
- tes CaO
Pada tabung reaksi di panaskan CaO(kami mengunakan cangkang telur) bebas halogen dan di tambahkan n-heksana pada saat masih panas lalu di didinginkan dan di didihkan kembali dengan penambahan air suling dan di tambahkan HNO3 encer sehingga hasil yang di amati larutan menjadi jernih dan banyak gelembung pada permukaan angkang telur.

8.2. Metode leburan dengan natrium
8.2.1.Belerang
Pada percobaan ini larutan L (putih telur) diasamkan dengan asam asetat dan di saring dengan kertas saring yang sudah di tetesi pb-asetat 10% dan di tambahkan larutan Na- niproprosida sehingga hasil yang di dapat ialah endapan putih dan bau yang tidak enak .
8.2.2.Nitrogen
Pada percobaan ini larutan L (putih telur) diasamkan dengan FeSO4 kemudian ditambahkan Fecl3 dan KF 10% lalu ditambah NaOH 10% kemudian dipanaskan dan didinginkan ditambahkan asam sulfat encer yang menghasilkan warna hitam kemudian berubah menjadi warna kuning dan terdapat endapan biru Berlin.
8.2.3. Halogen
Diasamkan larutan L (putih telur) dengan HNO3 pekat lalu ditambah AgNO3 encer kemudian dipanaskan hingga terjadi perubahan warna menjadi kuning dan timbul bau tidak sedap dan terdapat endapan hitam kecoklatan.

8.3.penentuan kelas kelarutan
8.3.1. kelarutan dalam air
Pada percobaan kelarutan dalam air digunakan  garam,gula,tepung,minyak hasildan putih telur.dimana hasil  yang didapatkan jernih maka larutan bernilai positif dan bila hasil yang didapatkan keruh maka larutan bernilai negatif. Untuk larutan (gula dan minyak) setelah dicampurkan dengan air hasilnya larutan tetap jernih. Hal ini menandakan bahwa untuk minyak dan gula bernilai positif. Untuk larutan tepung dan putih telur setelah dicampurkan dengan air hasilnya larutan menjadi keruh. Hal ini menandakan bahwa untuk tepung dan putih telur bernilai negatif.
8.3.2. Kelarutan dalam Benzene
Pada percobaan ini kami  juga menggunakan gula,garam,ktepung,minyak dan putih telur.
Dimana saat  menggunakan gula yang dicampurkan dengan eter, hasilnya menjadi jernih. Untuk tepung yang dicampurkan dengan dengan eter, larutan berwarna keruh. Kemudian pada minyak yang dicampurkan dengan eter, larutan jernih dan  untuk putih telur yang dicampurkan dengan eter larutan menjadi keruh.
8.3.4. Kelarutan dalam NaOH
Sama dengan percobaan sebelumnya bahan yang digunakan yaitu tepung,gula, garam,minyak dan putih telur. Untuk tepung, ketika dicampurkan dengan NaOH larutan menjadi keruh dan terbentuk endapan.Kemudian untuk  putih telur yang dicampurkan dengan NaOH, larutan menjadi bening dan timbul warna pink.
8.3.5 Kelarutan dalam NaHCO3
 Dalam kelarutan NaHCO3 dilakukanbpercobaan dengan gula ,tepung ,minyak,garam dan putih telur.
Untuk tepung, setelah dicampurkan dengan NaHCO3. Untuk tepung yang dicampurkan dengan Larutan menjadi keruh, terdapat endapan dan timbulnya gelembung. Kemudian untuk putih telur, hasilnya larutan bening dan terdapat busa.
Pada larutan gula dan garam tidak terdapat endapan dan warna tetap jernih
8.3.6. Kelarutan dalam HCl
Untuk kelarutan dalam HCl digunakan tepung, gula, garam, minyak,dan putih telur.
Dimana tepung  yang dicampurkan dengan HCl hasilnya menjadi keruh. Dan pada garam dan Kemudiangulabtidakbterfapat endapan dan warna tetap jernih, untuk putih telur, setelah dicampurkan dengan HCl larutan menjadi keruh dan terdapat endapan.
8.3.7. Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Dalam kelarutan H2SO4 dilakukan uji untuk tepung,gula minyak,garam dan  putih telur. Untuk tepung, setelah dicampurkan dengan H2SO4. Untuk tepung yang dicampurkan dengan larutan menjadi hitam dan terdapat endapan berwarna putih.pada garam dan gula warna tetap jernih dan tidak menghasilkan emudianendapan, untuk putih telur, hasilnya larutan menjadi keruh.
8.3.8 Kelarutan dalam H3PO4 pekat
 Dalam kelarutan H3PO4 dilakukan uji untuk tepung, gula,garam,minyak dan putih telur. Untuk tepung, setelah dicampurkan dengan H3PO4. Untuk tepung yang dicampurkan dengan larutan menjadi jernih. Pada garam hasil larutan menjadi jernih, Kemudian untuk putih telur, hasilnya larutan menjadi jernih juga. Begitu pula dengan gula, larutan menjadi jernih,dan pada minyak pun begitu juga larutan tetap jernih sehingga pada Kelarutan dalam H3PO pekat dapat di katakan hasil yang didapat Sama di setiap bahan yang di gunakan .



PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM
 1. Mengapa pada identifikasi unsur belerang cangkang telur perlu di asamkan terlebih dahulu dengan asam asetat ?
2. Apa yang menyebabkan minyak dengan pelarut enter dapat larut sedangkan minyak dengan pelarut air  tidak dapat larut ?
3.mengapa pada percobaan analisis belerang kertas saring basah harus di tetesi PB asetat 10% ?

X. MANFAAT 
Adapun manfaat setelah  dilakukannya praktikum ialah 
1. Dapat memahami cara cara uji unsur-unsur organik dalam senyawa
2. Dapat mempermudah mengetahui kandungan suatu unsur dalam suatu senyawa 
3. Dapat mengetahui perbedaan kelarutan setiap senyawa


XI. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu:
1. Analisa kualitatif adalah suatu proses identifikasi keberadaan suatu senyawa kimia dalam larutan yang belum di ketahui melalui tahapan pemisahan,pengendapan,uji nyala dll
2. Pada percobaan analisa kandungan karbon dan hidrogen pada sampel menggunakan CuO dan gula yang dipanaskan. Sedangkan untuk analisa belerang, nitrogen, dan Halogen digunakan larutan (x) kemudian di uji keberadaannya pada larutan
3. Mengidentifikasi larutan unknown (yang tidak di ketahui) sama pada percobaan belerang ,halogen,dan nitrogen. Larutan unknown yang di gunakan adalah putih telur
 
Video percobaan dapat dilihat pada link dibawah ini : 

https://youtu.be/IJ0i_M-svsY


XII . DAFTAR PUSTAKA 

Fahrizal, Dwi. 2014. Uji Analisis Kualitatif Zat-Zat Organik yang Terdapat dalam Sayuran. Jurnal Ilmiah. Volume 3, Nomor 1.


Kusumo. 2014. Analisis Kualitatif Zat Organik dalam Buah-Buahan.Jurnal Penelitian. Volume 2, Nomor 1.

Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

Tim Kimia Organik. 2019. Penuntun Praktikum Kimia Organik I.Jambi: Universitas Jambi
1. 1LA
LAMPIRAN GAMBAR

 1. Bahan yang di gunakan

2. Penimbangan bahan praktikum 
 3. Pemanasan serbuk CuO dan gula
4. Uji Kelarutan 
5. Analisa unsur pada cangkang telur 








pembuatan NaOH, NaHco3, na2co3 DAN SERBUK PEMASAK

            PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK “ pembuatan NaOH, NaHco3, na2co3 DAN SERBUK PEMASAK”   OLEH : NAMA : SURYANI BR NABABAN NIM : A1C11809...